Rabu, 08 Agustus 2012


SMP LABSCHOOL CINERE
ROAD TO BADUY
30 April – 2 Mei 2007


“SMP Labschool Cinere ke Baduy ?” Bukan bercanda lho tapi 100% betulan. Masa sih…? “Khan berat banget ..medannya sangat berat”. Mungkin komentar lainnya “Keren banget !” “Gila banget !” (seperti iklan sebuah produk).

Buktinya dibawah ini lihat saja gaya gallery foto-foto anak-anak SMP Labschool Cinere bersama guru pembimbing mereka yang tidak kalah semangat.

Tidak salah tuh kalau dibilang “Keren Banget!” Memang siswa SMP Labschool Cinere keren kok! Bayangkan! Bayangkan menempuh medan berat! Berbukit-bukit, jalanan licin naik turun dari Kampung Marengo yang terletak di Baduy Luar ke Cibeo Baduy Dalam petualang peneliti dari SMP Labscool ini harus berjalan 3 jam terus menerus.


Naik turun bukit antara Marengo dan CIbeo (foto by Aripin)
Pada waktu pulang dari Baduy Dalam ke Kampung Marengo hujan deras mengguyur alam indah Baduy. Medan yang harus dilalui otomatis dong tambah berat. Namun semangat pantang menyerah membuat anak-anak Labschool Cinere terus bergerak melalui jalan naik turun yang sangat licin. Perjalanan pulang menjadi lebih berat hingga pasukan peneliti bergerak lebih lambat. Juga harus diingat tenaga yang digunakan pada waktu pergi belum sepenuhnya pulih.
Faktor keamanan dan kesehatan sepenuhnya menjadi fokus para guru Pembina untuk mengawal perjalanan pulang ke Kampung Marengo.

Foto bersama setelah acara penutupan (foto by Aripin)
Ah jangan-jangan SMP Labschool Cuma piknik. Asal tahu saja ya SMP Labschool Cinere punya program yang dibesut dengan nama KOB. Jangan di baca K O B kalau belum paham benar. KOB adalah kependekan dari Kunjungan Obyek Belajar salah satu program sekolah yang bertujuan mengembangkan pengetahuan dengan memberikan pengalaman belajar langsung.

Tidak heran dong makanya Kepala Sekolah Bapak Arif Pradono begitu bersemangat pada waktu melepas rombongan KOB kelas VIII A, VIII B dan VIII C dengan pesannya “Kita harus belajar Hidup” Begitulah pompaan semangat dan diamini oleh banyak orang tua juga POMG yang hadir.

Dengan didampingi 12 orang guru Pembina dan karyawan maka batalyon berkekuatan 91 pasukan peneliti berangkat ke medan Baduy untuk kegiatan tanggal 30 April – 3 Mei 2007. Pasukan di bagi menjadi 6 kelompok yang akan ditempatkan di 6 rumah keluarga Baduy Luar di Kampung Marengo. Wow , Betul kan belajar hidup itu penting lho jadi menginap di rumah keluarga Baduy adalah cara yang paling tepat.

Boleh jadi muncul pertanyaan “Apakah guru-guru SMP Labschool Cinere tidak berat meninggalkan keluarga di rumah.? Kalamu mau jujur pasti dong berat. Hanya saja kepentingan membangun karakter juga semangat pengabdian masyarakat adalah salah satu tujuan mendidik. Ideal banget. Makanya dengan di dampingi Wakasek Kesiswaan Bapak Budi Suherman, Road to Baduy yang diketuai oleh Bapak Sri Mulyono wali kelas VIII B digagas bersama dengan Bapak H. Shofiullah Wali Kelas VIII A, dan Bapak Toto Wikarto wali kelas VIII C sejak awal menggebu merencanakan KOB dahsyat ini. Maka persiapan telah dilakukan jauh hari. Tidak kurang Bakti social juga menjadi agenda kegiatan dalam KOB. Bu Lala, Bu Emmy, Bu Kulsum, Pak Aat, Pak Aripin, Pak Toto, Pak Wawan, Pak Buyung, dengan dukungan karyawan Pak Andi.


Agenda Kegiatan

KOB kali ini memang luaaar biaaasa. Peserta KOB memiliki agenda sebagai berikut:
1. Melakukan observasi lapangan dengan melengkapi Lembar Kerja Siswa LKS yang kali ini dipersiapkan oleh Bu Lala. Pengisian LKS menuntut tapi tidak disidang potret kehidupan masyarakat dan orang Baduy. Selain mengisi LKS yang sangat menantang adalah wawancara dengan Baduy Luar di Kampung Marengo juga Baduy Dalam di Cibeo.

2. Mengikuti demo pembuatan gula aren dan menenun tenunan khas Baduy. Sayangnya kalau ingin memiliki tenun Baduy tidak bisa gratis.Maunya gratis melulu sih. Dasar keren!









Seorang Ibu Pengrajin tenun memperlihatkan cara menenun yang baik dan benar (foto by Aripin)















Semangat peserta KOB luar biasa.Bakat penelitinya tinggi banget (foto by Aripin)



3. Melaksanakan Baksos alias bakti social sebagai bagian pengabdian dan pemahaman terhadap masyarakat. Materi baksos tidak wah tapi mewakili perasaan terdalam siswa dan guru SMP Labschool Cinere sebagai tanda cinta eh tali kasih.
Guru bersama siswa mempersiapkan bakti social (foto by Aripin)
Profil Orang Baduy
Sederhana. Nampak dari pakaian yang digunakan dan makanan yang dikonsumsi. Masyarakat Baduy juga tidak menggunakan listrik di rumah-rumah mereka.
Jujur. Kejujuran tergambar jelas karena di Baduy tidak ada kompetisi kehidupan yang keras seperti di kota besar yang kadang membuat orang menjadi tidak jujur.
Baik hati. Orang Baduy menerima dengan ramah para pendatang meskipun mereka tidak banyak berkata-kata kecuali dibutuhkan.
Disiplin. Faktor ini sangat dimiliki setiap orang Baduy karena mereka mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh nenek moyang mereka.

Kemesraan antara SMP Labschool Cinere dan Suku Baduy (foto by Aripin)









Dua siswa Labschool Cinere dan 6 adiknya (foto by Aripin)

















Orang Baduy Primitif?

Kalau kebanyakan orang beranggapan demikian sebelum dating ke Baduy ya sah-sah saja. Namanya juga belum tahu. Tapi kalau sudah dating dan menengok langsung anggapan seperti itu akan menguap seperti embun tersapu matahari pagi. Kok bisa begitu. Ya bisa.

Makanya datang bersama anak Labschool Cinere. Observasi yang dilakukan di Kampung Marengo dan Cibeo di Baduy Dalam menyimpulkan bahwa orang Baduy bukan primitive. Tapi mereka punya sikap tertentu dan sebuah pilihan yang sadar dalam sejarah masyarakatnya. Kayanya agak berat nih bahasanya.

Lihat saja teknologi yang dimiliki orang Baduy. Rumahnya memenuhi standar kesehatan 4 sehat 5 sempurna. Kaya minum susu. Mereka sangat menjaga kebersihan baik di dalam rumah maupun di luar. Tidak heran mereka melarang pengunjung membuang sampah. Pamali!

Rumahnya cukup besar untuk keluarga dan tertata rapi ada teras, ruang tamu kamar, dapur gudang dilengkapi dengan tempat menjemur pakaian di belakang rumah. Tipe rumah seperti ini real estate punya kategori Melati.











Lingkungan tertata rapi, bersih dengan fasilitas lapangan. (foto by Aripin)













Tengok lagi teknologi mereka membangun jembatan. Amazing! Jembatan terbuat dari bamboo yang besar panjang tersebut diikat tali ijuk membentang sungai yang lebar deras. Konstruksinya kuat dan berdimensi arsitektur modern kok.

Yang menarik lagi adalah model lumbung padi yang dikumpulkan di satu tempat terpisah dari rumah-rumah induk. Kenapa dipisahkan sih.Rupanya untuk menghindari terjadinya kebakaran yang akan melalap sumber pangan. Si jago merah kan tidak pernah kompromi. Kembali ke laptop. Arsitektur dan keindahan lumbungnya menunjukkan apreasiasi seni yang menarik lho.











Usut punya usut mengapa Baduy seperti mengisolasi. Anak Labschool Cinere melakukan wawancara dengan wakil Jaro (pemimpin pemerintahan) di masyarakat Baduy yang bernama Pak Mursyid. Puun sebagai kepala aadat tertinggi tidak ada di tempat. Biasanya sulit sekali untuk bertemu dengan Puun. Informasinya Presiden Soeharto pernah dua kali ke Baduy dan bejalan kaki. Presiden Soesilo Bambang Yudhono juga berencana untuk ke Baduy. Berarti masyarakat Baduy punya tempat yang penting lho. Sayang segala aktifitas di Baduy Dalam tidak bisa diabadikan karena terlarang.
Kang Mursyid menjelaskan kira-kira seperti ini. Orang Baduy harus menjaga kelestarian alam dan eksistensi masyarakat. Segala tata aturan dibuat untuk kebaikan masyarakat. Jadi tidak ada listrik, tape recorder, hp.Di larang mebuang sampah plastic juga merupakan upaya melestarikan alam.

Orang Baduy tidak bersekolah seperti kita. Ada pendapat ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk membodohi orang dan bersifat dapat merusak. Kalau dipikir ya benar juga.

Rasanya laporan ini akan sangat panjang kalau diteruskan. Pastinya hasil penelitian ini akan dibukukan sebagai hasil kunjungan ke Baduy. Banyak oleh-oleh yang didapat rombongan SMP Labschool Cinere. Semoga bermanfaat untuk masa depan kita semua. Amin.

Laporan: Budi Suherman.










Tidak ada komentar: